Ikhlas

Bismillah
Alhamdulillah, Shalawat serta salam kita sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta keluarga serta sahabatnya juga pengikut yang menegakkan sunnahnya sampai hari ini. Hari ini sebuah lembaran baru dan postingan dari website ini akan saya mulai dari sebuah intisari dari buku terjemahan tazkiyatun nafs karya Dr. Ahmad Farid, seorang ulama yang kompeten dalam hal pengobatan penyakit hati[1]

Kitab ini merupakan kompilasi dari tiga ulama besar (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Imam Al Ghazali rahimakumullah) yang penulis(kitab) kumpulkan menjadi sebuah karya fenomenal yang banyak digunakan sebagai rujukan dan kajian di berbagai majelis. Ada 16 bahasan yang dikemas di dalam terjemahan tazkiyatun nafs ini.

Saya memulai dengan bahasan Ikhlas. Apa yang dimaksud dengan IKHLAS?

IKHLAS secara lughowi (bahasa) adalah murni diambil dari kata اخلص-يخلص yang maknanya menjadi murni

Sedangkan secara istilah beberapa ulama mendefinisikannya berbeda-beda, seperti beberapa pendefinisian mereka yang akan saya kutip berikut.

Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.

Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.

Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”.

Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”.

Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.[2]

Dari keempat pendapat bisa disimpulkan bahwa ikhlas adalah:

  1. Melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah
  2. Membersihkan setiap amal dari noda
  3. Melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat Allah
  4. Apabila Allah menyelamatkan kita dari riya’ dan syirik

Ikhlas merupakan syarat diterimanya sebuah amal selain ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam). Berdasarkan firmanNya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah 5).[3]

Sebuah riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Nabi bersabda saat haji wada’, “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar kata-kataku lalu memahaminya. Betapa banyak orang yang membawa pemahaman namun ia sendiri tidak memahaminya. Tiga hal yang seorang mukmin tidak akan mengkhianatinya; mengikhlaskan amal untuk Allah, tulus menasihati kaum Muslimin, dan tetap bersama jamaah.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Dari ketiga hal yang disebutkan dalam hadits tadi, maka kita dapat mengambil pelajaran bahwa hati akan menjadi baik apabila seseorang mau mengamalkan ketiganya.

Hati akan cenderung untuk mengikuti setan, kecuali orang yang ikhlas. Sebagaimana firmanNya, “Kecuali hamba-hambaMu yang tulus diantara mereka.“(Shad 83).

Seorang saleh berkata kepada dirinya sendiri, “Wahai jiwaku, ikhlaskan dirimu, niscaya kau akan terlepas dari jerat setan.

Segala kesenangan dunia pada dasarnya menyenangkan bagi jiwa dan hati, entah kadarnya sedikit atau banyak. Apabila suatu amalan telah terkontaminasi oleh kesenangan dunia, maka kesucian amal tersebut akan ternodai.

Ikhlas adalah membersihkan hati dari segala kontaminasi, entah sedikit maupun banyak. Sehingga niat bertaqarrub kepada Allah menjadi murni dan tidak ada motif untuk melakukan apapun selain karena-Nya.

[Karakter Orang Ikhlas]
Orang yang ikhlas adalah orang yang selalu mencintai Allah, pikiran tertuju hanya kepada akhirat, dan menutup ruang bagi segala kecintaan dunia yang berlebih. Orang yang seperti ini memiliki amalan yang tulus dan niat yang benar dalam mengerjakan apapun.

[Tanda Ikhlas]

Dzun Nuun menyebutkan tiga tanda ikhlas:

  1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
  2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
  3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).[4]

[Obat Ikhlas]
Diantara obat ikhlas adalah.
1. Mematahkan kesenangan diri
2. Memutus sifat rakus terhadap dunia
3. Memenuhi hati dengan fokus terhadap akhirat
Seseorang yang melandasi setiap perbuatan dengan ketiga obat di atas maka dia dengan mudah akan mampu mengemas segala amal dengan keihklasan.

Sumber rujukan
[1] http://wisatabuku.com/buku-tazkiyatun-nafs-lengkap/
[2] https://almanhaj.or.id/2977-pengertian-ikhlas.html
[3] Aplikasi ayat dari King Saud University
[4]  https://rumaysho.com/654-berusaha-untuk-ikhlas.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s